Laman

Sabtu, 16 Mei 2015

PENDIDIKAN LEPANG ORANG SASAK

Mungkin kita belum pernah dengar tentang pendidikan lepang. Ya karena memang tidak pernah diajarkan di bangku sekolahan, tetapi pendidikan ini sering kita terima dari orang-orang tua kita. Lepang dalam bahasa sasak artinya katak/kodok. Mungkin ini adalah hal yang spele dan tidak berdampak besar bagi kehidupan kita dan anak-anak kita. Pendidikan lepang kepada anak-anak bagi sebagian orang Lombok sudah layak dan diajarkan secara turun temurun dari nenek moyang kita dan tanpa kita sadari, entah siapa yang memulai yang jelas pendidikan ini adalah pendidikan yang keliru, karena mendidik anak menjadi pengecut dan tidak bijak. Kebudayaan-kebudayaan yang begitu banyak dari masyarakat Lombok memiliki philospi tersendiri, tetapi kebanyakan dari kita tidak mau mendalami pelajaran dan ajaran yang tersirat didalamnya. Orang tua kita banyak mewarisi kebudayaan dan kebiasaan tanpa penjelasan yang mendalam dan tugas kita menggali ajaran yang ada didalamnya. Seperti pendidikan lepang ini. Ketika kita disekolah kebanyakan kita diajarkan tentang pengetahuan umum. Sehingga kita menjadi ahli dalam pelajaran fisika, matematika, ekonomi atau yang lainnya. Tetapi sedikit sekali kita diajarkan pelajaran dari kebudayaan yang diwariskan orang tua kita. Pendidikan bahasa sasak dan budaya sasak jarang diajarkan disekolahan. Padahal penting untuk kita mengetahui semuanya sehingga budaya-budaya Lombok tidak punah. Sebagai putra daerah sudah semestinya kita mencintai budaya-budaya yang arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Pendidikan yang berkarakter sangat penting untuk diajarkan. Dan kita terus mencoba mencari tahu ajaran-ajaran yang bagus dan yang kurang bagus, sehingga kita bisa belajar lebih bijak, tidak begitu saja menerima ajaran-ajaran tersebut. Seperti pendidikan lepang ini.
Kita sering mendengar, ketika anak dididik dengan pujian maka dia belajar menghargai, ketika anak dididik dengan kekerasan dia belajar melawan, ketika anak dididik dengan cemoohan dia belajar mendendam dan begitu seterusnya. Lalu bagaimana ketika anak dididik dengan pendidikan lepang ala orang Sasak, apa yang akan dipelajari oleh si anak. Sudah sering kita dengar ketika kita masih kecil, ketika kita terjatuh dan menangis kesakitan, lalu dengan serta merta orang tua kita (ibu atau bapak kita) bilang “sudah jangan nangis lagi, injak lepangnya” laulu dia melanjutkan “seroro lepangnya”. Seroro dalam bahasa Lombok artinya kurang ajar. Tanpa berfikir panjang kita pun mengikuti perkataan orang tua kita dan menginjak tanah tempat kita jatuh lalu berhenti menangis. Hal itu kita lakukan secara terus menerus dan kita ajarkan hal yang sama kepada anak-anak kita. Orang tua kita mungkin berfikir ini adalah cara paling ampuh supaya kita berhenti menangis. Tetapi dibalik itu semua kita belajar dan dididik untuk selalu menyalahkan keadaan dan menyalahkan lepang yang tidak melakukan apapun. Selain itu kita tidak dididik untuk mengakui segala kesalahan yang kita lakukan. Kita lalu beranjak dewasa dengan ajaran lepang yang kita terima dari orang tua kita. Kita belajar menjadi seorang pengecut dan selalu menyalahkan orang lain dan keadaan. Ketika kita terjatuh, lepang selalu kita salahkan. Seandainya lepang melihat dan mengetahui kita selalu menyalahkan dirinya atas kesalahan yang kita lakukan, mungkin dia akan mengadu kepada Tuhan dan mendoakan kita yang tidak baik.
Hal ini sangat penting untuk kita renungi sebagai orang tua, bagaimana seharusnya kita mendidik anak-anak kita. Karena rumah adalah madarasah atau sekolah pertama tempat anak-anak belajar tentang kehidupan dan membangun pondasi yang kokoh dalam menghadapi persaingan dan menghadapi kehidupan yang jauh lebih berbahaya bagi perkembangan moral dan etika sang anak. Yang nantinya anak-anak kita akan menjadi penerus dan pengganti kita. Kalau moral sudah rusak maka hancurlah segalanya. Ya mungkin bukan tindakan yang tepat kalo kita terus menjastifikasi orang tua kita tentang pendidikan lepang yang diberikannya. Tetapi mari kita sikapi dengan lebih bijaksana, dan merubah kesalahan-kesalahan yang ada.

Pendidikan lepang mestinya kita ganti, ketika sang anak terjatuh dan membuat kesalahan, kita beritahu kesalahannya dan kita berikan hukuman yang semestinya. Lalu membesarkan hatinya untuk mencoba dan terus memperbaiki kesalahannya. Sehingga tidak ada alasan untuk kita menyalahkan orang lain.

Tidak ada komentar: