Mungkin kita belum
pernah dengar tentang pendidikan lepang. Ya karena memang tidak pernah
diajarkan di bangku sekolahan, tetapi pendidikan ini sering kita terima dari
orang-orang tua kita. Lepang dalam bahasa sasak artinya katak/kodok. Mungkin
ini adalah hal yang spele dan tidak berdampak besar bagi kehidupan kita dan
anak-anak kita. Pendidikan lepang kepada anak-anak bagi sebagian orang Lombok
sudah layak dan diajarkan secara turun temurun dari nenek moyang kita dan tanpa
kita sadari, entah siapa yang memulai yang jelas pendidikan ini adalah
pendidikan yang keliru, karena mendidik anak menjadi pengecut dan tidak bijak.
Kebudayaan-kebudayaan yang begitu banyak dari masyarakat Lombok memiliki
philospi tersendiri, tetapi kebanyakan dari kita tidak mau mendalami pelajaran
dan ajaran yang tersirat didalamnya. Orang tua kita banyak mewarisi kebudayaan
dan kebiasaan tanpa penjelasan yang mendalam dan tugas kita menggali ajaran
yang ada didalamnya. Seperti pendidikan lepang ini. Ketika kita disekolah
kebanyakan kita diajarkan tentang pengetahuan umum. Sehingga kita menjadi ahli
dalam pelajaran fisika, matematika, ekonomi atau yang lainnya. Tetapi sedikit
sekali kita diajarkan pelajaran dari kebudayaan yang diwariskan orang tua kita.
Pendidikan bahasa sasak dan budaya sasak jarang diajarkan disekolahan. Padahal
penting untuk kita mengetahui semuanya sehingga budaya-budaya Lombok tidak
punah. Sebagai putra daerah sudah semestinya kita mencintai budaya-budaya yang
arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Pendidikan yang berkarakter
sangat penting untuk diajarkan. Dan kita terus mencoba mencari tahu
ajaran-ajaran yang bagus dan yang kurang bagus, sehingga kita bisa belajar
lebih bijak, tidak begitu saja menerima ajaran-ajaran tersebut. Seperti
pendidikan lepang ini.
Kita sering mendengar,
ketika anak dididik dengan pujian maka dia belajar menghargai, ketika anak
dididik dengan kekerasan dia belajar melawan, ketika anak dididik dengan
cemoohan dia belajar mendendam dan begitu seterusnya. Lalu bagaimana ketika
anak dididik dengan pendidikan lepang ala orang Sasak, apa yang akan dipelajari
oleh si anak. Sudah sering kita dengar ketika kita masih kecil, ketika kita
terjatuh dan menangis kesakitan, lalu dengan serta merta orang tua kita (ibu
atau bapak kita) bilang “sudah jangan nangis lagi, injak lepangnya” laulu dia
melanjutkan “seroro lepangnya”. Seroro dalam bahasa Lombok artinya kurang ajar.
Tanpa berfikir panjang kita pun mengikuti perkataan orang tua kita dan
menginjak tanah tempat kita jatuh lalu berhenti menangis. Hal itu kita lakukan
secara terus menerus dan kita ajarkan hal yang sama kepada anak-anak kita.
Orang tua kita mungkin berfikir ini adalah cara paling ampuh supaya kita
berhenti menangis. Tetapi dibalik itu semua kita belajar dan dididik untuk
selalu menyalahkan keadaan dan menyalahkan lepang yang tidak melakukan apapun.
Selain itu kita tidak dididik untuk mengakui segala kesalahan yang kita
lakukan. Kita lalu beranjak dewasa dengan ajaran lepang yang kita terima dari
orang tua kita. Kita belajar menjadi seorang pengecut dan selalu menyalahkan
orang lain dan keadaan. Ketika kita terjatuh, lepang selalu kita salahkan.
Seandainya lepang melihat dan mengetahui kita selalu menyalahkan dirinya atas
kesalahan yang kita lakukan, mungkin dia akan mengadu kepada Tuhan dan
mendoakan kita yang tidak baik.
Hal ini sangat penting
untuk kita renungi sebagai orang tua, bagaimana seharusnya kita mendidik
anak-anak kita. Karena rumah adalah madarasah atau sekolah pertama tempat
anak-anak belajar tentang kehidupan dan membangun pondasi yang kokoh dalam
menghadapi persaingan dan menghadapi kehidupan yang jauh lebih berbahaya bagi
perkembangan moral dan etika sang anak. Yang nantinya anak-anak kita akan
menjadi penerus dan pengganti kita. Kalau moral sudah rusak maka hancurlah
segalanya. Ya mungkin bukan tindakan yang tepat kalo kita terus menjastifikasi
orang tua kita tentang pendidikan lepang yang diberikannya. Tetapi mari kita
sikapi dengan lebih bijaksana, dan merubah kesalahan-kesalahan yang ada.
Pendidikan lepang
mestinya kita ganti, ketika sang anak terjatuh dan membuat kesalahan, kita
beritahu kesalahannya dan kita berikan hukuman yang semestinya. Lalu
membesarkan hatinya untuk mencoba dan terus memperbaiki kesalahannya. Sehingga
tidak ada alasan untuk kita menyalahkan orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar