Laman

Sabtu, 16 Mei 2015

ECHO KEHIDUPAN

Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah seperti sandiwara yang alur ceritanya diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa, sang Sutradara kehidupan. Dimana kita adalah actor-aktor yang memainkannya. Sebelumnya, dikehidupan alam kandungan kita sudah teken kontrak dengan-Nya. Umur, rizki, jodoh dan takdir kita sepakati sebagai tiket menjalani kehidupan ini.
Dalam menjalani kompleksitas kehidupan ini sering membuat kita bingung, layaknya sebuah misteri. Segala hal terjadi begitu saja tanpa kita sadari dan fahami. Kebahagiaan bias datang begitu saja ketika kesedihan barusaja melanda, begitu juga sebaliknya. Manusia dalam hidupnya tidak terlepas dari keinginan dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Banyak hal yang dihadapi, cobaan, rintangan, kegagalan, peluang dan kesuksesan. Sebagai actor, seharusnya menempatkan diri kita sebagai seorang pemenang.
Kehiidupan itu seperti sebuah echo, echo adalah refleksi atau gelombang yang dipancarkan kembali. Seperti hukum Newton III atau dikenal dengan hukum aksi-reaksi yang mengatakan bahwa sebuah aksi yang kita berikan pada suatu objek maka objek tersebut memberikan reaksi yang serupa. Begitu juga dengan kehidupan ini, aksi yang kita berikan untuk kehidupan ini maka kita akan mendapatkan reaksi yang serupa dari kehidupan ini. Segala persepsi, fikiran dan tindakan yang kita berikan pada kehidupan ini maka kita akan mendapati kehidupan seperti yang kita persepsikan. Ketika kita berfikir hidup ini susah maka kita akan mendapatkan kesusahan-kesusahan hidup dan begitu juga sebaliknya. Dan ketika berbuat kerusakan-kerusakan maka kita akan mendapatkan dampak dari kerusakan yang kita lakukan.
Ada sebuah kisah, suatu hari seorang anak kecil pergi mendaki gunung dengan ayahnya. Sang anak begitu senang dan bahagia. Dia sangat menikmati perjalanannya. Ayahnya laulu berkata“ Nak, ini adalah nikmat Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan”. Mereka terus melangkah dan anak kecil itu sangat menikmati perjalanannya, berlari-lari kecil dan melompat-melompat. Beberapa langkah anak kecil itu terjatuh karena tersandung akar pohon. Spontan saja dia berteriak kesakitan “aduuuh”, tidak lama kemudian terdengar suara misterius “aduuh” meniru perkataan anak kecil itu, suara itu adalah echo atau gema yang dipantulkan tebing-tebing. Anak kecil itu bingung lalu berteriak “Hei, siapa kamu”, bukan jawaban yang dia dapatkan tetapi kata-kata yang dia lontarkan terdengar “Hei, siapa kamu”. Anak kecil itu tambah bingung, lalu dia berteriak lagi“ Tunjukkan dirimu”, dan gema itu terdengar “Tunjukkan dirimu”. Saking jengkelnya anak itu berteriak“ kamu pengecut”, suara misterius (gema) membalas “ kamu pengecut”. Ayahnya lalu tersenyum melihat kelakuan anaknya. Lalu dengan bijak ayahnya menjelaskan suara yang didengar itua dalah Echo, apa yang kita lontarkan maka kita akan mendapatkan hal yang serupa. Lalu ayahnya berdiri dan berteriak “kamu sang pemberani ” suara misterius itu menyahut “kamu sang pemberani”. Ayahnya berteriak lagi “kamu sang pemenang ” suara itu membalas “kamu sang pemenang”. Anak itu terlihat bersemangat lalu berdiri dan berteriak “kamu sang juara” suara misterius menyahut “kamu sang juara”.
Hidup inia dalah sebuah Echo, sehingga berfikir positif atas kehidupan dan Sang Maha pemberi hidup adalah salah satu kunci menjadi seorang pemenang.

Sungguh pelajaran yang sangat luar biasa dari kisah inspiratif tersebut. Dalam hidup ini selayaknya kita memposisikan diri sebagai seorangpemenang. Apa yang kita fikirkan tentang diri kita dan kehidupan kita, itulah diri kita.

Tidak ada komentar: