Batu Daun Cinta Teman Setia
Belajarku
Penerbit : Sekolah Guru Indonesia-Dompet
Dhuafa
Cetakan : I, November 2014
Hal : xviii + 254 Halaman
Pendidikan
merupakan bagian yang sangat penting dalam pembangunan bangsa. Bisa dikatakan,
tanpa pendidikan suatu bangsa tidak akan bisa maju. Kondisi pendidikan dan
kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dan hak untuk mendapatkan
pendidikan yang layak belum merata. Fasilitas pendidikan yang bagus masih
tersentralisasi hanya di Indonesia bagian barat saja. Sementara, di bagian
Indonesai timur masih belum mendapatkan pendidikan yang layak secara merata.
Terlebih di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terbelakang (3T) kondisi pendidikan
sangat memprihatinkan.
Tidak
hanya masalah hak mendapatkan pendidikan yang layak. Tetapi juga rasa
nasionalisme menjadi PR yang besar bagi pemerintah dan orang-orang yang peduli
dengan pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, Sekolah Guru Indoensia mencoba mengambil
andil dalam membenahi pendidikan anak Bangsa dengan program Sekolah Guru
Indonesia. Yaitu dengan mengirim guru-guru muda terbaik ke seluruh pelosok
negeri. Kiprah dan perjuangan mereka membenahi pendidikan anak bangsa tercatat
dalam buku ini. Kisah suka dan duka para pejuang pendidikan dalam mencurahkan
ilmu dengan sepenuh hati kepada anak-anak di penghujung negerei patut untuk
disimak. Dengan misi mengembalikan semangat untuk bersekolah dan mengokohkan
semangat nasionalisme dan kebangsaan anak-anak di tapal batas negeri tercinta
ini.
Kisah
ibu Dwi, guru muda Sekolah Guru Indonesia yang bertugas di daerah perbatasan di
Nunukan, Kalimantan Utara mencerminkan wajah pendidikan di tapal batas. Adalah
Andi, siswa ibu Dwi yang setiap hari melintasi dua Negara untuk sekolah. Andi
tinggal di Sungai Pukul, Sebatik Malaysia dan bersekolah di Sebatik Indonesia.
“gambar
apa ini?” Aku menunjukkan gambar wortel kepada siswa.
“Lobak,
Bu!” sahut mereka kompak.
“Apa?”
Tercengang Aku mendengar jawaban mereka.
Aku
mencoba menenangkan diri, Aku mencoba berdamai dengan apa yang baru saja ku
dengar dari lisan siswaku. Bagaimana mungkin mereka lebih akrab dengan bahasa
Malaysia dibandingkan bahasa Indonesia.
Itulah
salah satu cuplikan kisah dalam buku ini. Dekatnya mereka dengan budaya Negara
tetangga, prkatis membuat mereka lebih akrab dengan bahasa Malaysia. Namun
semangat Nasionalisme Andi patut diteladani, wlaupun tinggal di Malaysia tetapi
dia tetap bersekolah di Indonesia.
Ada
dua hal penting yang ingin disampaikan buku ini yang dibeberkan dari kisah para
Guru muda Sekolah Guru Indonesia; pertama, bagaimana menciptakan kegiatan
belajar mengajar lebih menarik dan menyenangkan walaupun dalam kondisi
fasilitas yang terbatas dan kedua, memberikan gambaran pada para pendidik
(Guru) bahwa Guru harus memiliki ideology yang kuat untuk mencurahkan ilmu
dengan sepenuh hati kepada siswa tanpa pamrih dan penuh keikhlasan.
Di
dalam buku ini diceritakan bagaimana para guru muda SGI memanfaatkan alam
sekitar sebagai media belajar yang menyenangkan dan bagaimana menerapkan metode
mengajar yang tepat sesuai dengan tipikal siswa. Buku ini sangat cocok dibaca
oleh para praktisi pendidikan dan para Guru Indonesia sebagai sumber inspirasi
dan sebagai refrensi dalam memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak
bangsa. Bahasa yang digunakan pun sangat sederhana karena dituliskan
berdasarkan pengalaman dari para guru muda SGI sehingga mudah untuk dicerna
oleh semua kalangan pembaca. Layoutnya juga simpel dan menggunakan tata bahasa
indonesia yang baik.
Hampir
tidak ada kekurangan dari materi dan analisis ide yang ingin disampaikan karena
benar-benar merupakan kisah nyata. Tetapi buku ini tidak menjelaskan secara
terperinci bagaiman membuat media pembelajaran pada siswa. Mungkin ini perlu
dituangkan dalam buku yang lain sehingga bisa dijadikan acuan untuk guru
Indonesia.
Saya
menyimpulkan bahwa anak-anak bangsa adalah agen stock dan agen perubahan untuk
Indonesia, sehingga pendidikan yang layak adalah hak setiap anak di Negeri ini.